Aku kecewa akan diriku sendiri, kenapa aku tidak begitu sempurna? Kenapa aku mempunyai banyak kesalahan? Tuhan bantulah aku.. Lindungi aku dan tuntunlah jalanku agar jalanku lurus untuk mengahadap-Mu. Ya Tuhan aku tahu aku bukan manusia yang sempurna, aku mempunyai banyak kesalahan maka dari itu tuntunlah jalanku ini jangan biarkan aku berpaling dari jalan-Mu....
Tuhan bimbinglah aku berikanlah hidupku menjadi yang terbaik. Jangan biarkan aku termasuk orang-orang yang kafir!!!!
-Shabrina Hidayat-
Sabtu, 25 Juli 2009
Kamis, 23 Juli 2009
Aku Takut
Tuhan aku takut melalui hidup ini
Aku merasa tidak sempurna hidup di dunia dan selalu mendapatkan cercaan dari orang lain
Bagaimana aku bisa melalui hidup ini kalau aku merasa terasing?
Berikanlah aku kekuatan Tuhan...
Sungguh aku percaya akan rahmat dan karunia-Mu
Karena Engkau tidak mungkin memberikan cobaan diluar kemampuan umat-Nya
Itulah sepenggal puisi karya Widya Anggrainum, teman sebayaku yang mengidap penyakit kanker, aku bertemu dia saat mengantar ayah ke Rumah Sakit untuk kontrol ke dokter Jantung. Jujur aku merasa sangat sedih melihat keadaannya waktu itu, namun aku menahan untuk tidak menangis. Widya, begitulah ia sering dipanggil ia begitu tabah dan mensyukuri akan hidupnya sekarang ini. Bahkan ketika aku menjenguknya untuk kedua kalinya, ia begitu semangat begitu aku tersenyum menatap matanya. Aku terenyuh melihat bola matanya yang begitu berbinar-binar menatap mataku seakan dia berkata : Terima Kasih Tuhan engkau memberikan seseorang yang mau berteman denganku. Perlu kalian ketahui, Widya tidak punya teman selain para pasien yang mengidap penyakit yang sama dengannya! Karena, ya seperi yang aku bilang dengan kalian kalau Widya sering dicibir karena kondisi fisiknya. Rambut Widya sudah tidak ada alias botak karena menjalani Kemoterapi, untuk menutupi kepalanya itu dia sekarang sudah memakai kerudung. Oh ya, aku belum kasih tahu namaku hehhe maaf ya..karena keasyikan ceritain Widya , nama panjangku Shabrina Anindhita Tyas kalian boleh memanggilku Rina dan umurku baru 15 tahun. Aku baru masuk SMA nih??... Loh kok jadi curhat ya??
"Assalamu'alaikum" salamku begitu masuk ke ruang perawatan begitu melihat Widya.
"Wa'alaikummussalam, rina apa kabar?" jawabnya sambil mencoba tersenyum.
"Alhamdulillah baik. Kamu?" tanyaku sambil melihat wajah Widya yang semakin hari semakin lesu.
"YA begini aja kok! Ga ada perubahan" Ujarnya lesu.
Aku hanya mencoba tersenyum melihat jawabannya itu, ada sedikit duka di perkataanya. Itu yang membuat aku tidak bisa berbicara untuk menanggapi omongannya. Sepertinya Widya merasa aku menjadi berpikir tentang dirinya, langsung ia mengajakku duduk di sampingnya.
"Rina, kamu mau sampai kapan berdiri kayak patung begitu???" ujarnya sambil tersenyum.
"Sampai kamu mau makan.." kataku sambil menunjuk makanan yang belum dimakan oleh Widya.
"Aku tidak lapar!" Widya langsung cemberut.
"Kenapa kamu enggak mau makan sih?" ujarku sedih melihatnya.
"Percuma saja aku makan, pasti aku akan mati!"
Aku segera memeluknya begitu air matanya mengalir deras di pipinya. Aku yakin dia pasti menganggap dirinya tidak berguna di dunia ini, kalau aku menjadi dia pasti aku akan menganggap diriku seperti itu. Tapi Widya selalu tegar mengahadapi dunia ini, tapi kenapa hari ini ia begitu sedih? Apa ada masalah menimpa dirinya? Atau ada orang yang menjelek-jelekkan dirinya? Sampai ia begitu sedih hari ini Entahlah!
Ada seorang dokter menghampiriku saat aku beranjak pulang begitu menutup pintu kamar perawatan Widya.
"Selamat siang, anda keluarga dari nona Widya?" tanya dokter itu ramah.
"Siang, oh saya temannya Widya maaf ada apa ya?" kataku bingung.
"Oh maaf, saya kira anda keluarganya, ksmi ingin memberitahu kalau Widya harus segera dioperasi!" jawab dokter itu serius.
"Operasi? untuk apa ya?" tanyaku penasaran.
"Oh maaf mbak, saya hanya bisa menjelaskan hal ini kepada keluarganya saja Permisi!" pamit dokter itu.
Aku segera menelpon Tante Alma, yang tak lain adalah mamanya Widya.
"Assalamu'alaikum, tante ini Rina tante bisa ke rumah sakit sekarang?"
"Wa'alaikumussalam, bisa kok tante segera kesana ya!"
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Tante Alma datang juga. Segera aku salami wanita yang umurnya hampir 45 tahun ini tapi tetap kelihatan cantik dan awet muda. Ia begitu khawatir akan keadaan anaknya, sehingga begitu ia sampai menghampiriku raut wajahnya sangat cemas.
"Tante tadi Rina ketemu sama dokter, katanya Widya harus segera dioperasi, tapi Rina enggak tahu untuk apa Widya dioperasi begitu Rina tanya, kata dokter ia hanya mau bicara dengan keluarga pasien saja!" jelasku panjang lebar.
"Ya sudah, kamu antar tante ke ruangan dokter itu ya?" pintanya.
"Baik tante!" jawabku lembut.
Kami sama-sama mendatangi ruangan praktek dokter itu. Ketika kami mengetuk pintu ruang praktek itu keluarlah seorang dokter berwajah oriental mengenakan setelan jas dokter berwarna putih. Begitu melihat kami, dokter itu segera mempersilakan kami untuk masuk ke ruangannya.
"Dokter Kevin, saya Alma ibunya Widya!" ujar Tante Alma.
"Oh ya.. Selamat siang Ibu Alma, saya memang ingin berbicara dengan anda mengenai keadaan kesehatan Widya!"
"Ya silahkan dokter!"
"Begini bu Alma, Widya harus segera dioperasi untuk kesembuhan penyakit kankernya ini, tapi..." pertanyaan dokter Kevin menggantung.
"Tapi kenapa dok?" tanya Tante Alma tidak sabar.
"Tapi ada resikonya ibu, seandainya operasi ini tidak berhasil kemungkinan ia akan meninggal!" kata dokter Kevin serius.
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya dokter Kevin!" ujar Tante Alma.
"Baik Bu!"
Sehari setelah aku dan Tante Alma bertemu dengan dokter Kevin, aku kembali menjenguk Widya, namun kali ini ia tidak nampak tersenyum mungkin ia kepikiran kalau ia akan dioperasi beberapa hari lagi.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikummussalam"
"Kamu kenapa? kok wajahmu lesu banget!" tanyaku.
"Aku.... Aku takut Rin!" kata Widya terbata-bata.
"What? Takut? Apa yang ditakutin sih, liat aku jadi takut?" ujarku sambil tertawa.
"Aku takut meninggal Rina! Aku belum bisa memberikan apapun pada mama dan papa. Aku... aku belum bisa membahagiakan mama, papa, dan kakakku!!" ujarnya sambil menangis.
"Sudahlah yang penting kamu tawakal aja sama Tuhan, serahkan saja pada-Nya ya? Kalau kamu bilang kamu belum bisa membahagiakan kedua orang tua dan kakakmu cobalah buat mereka tersenyum. Itu saja dulu!" terangku padanya.
"Thank You Rina, You are the best friend... jangan lupain aku ya?" tanyanya sendu padaku.
"Insya Allah!" janjiku.
Tidak terasa hari semakin cepat berlalu, hari Sabtu ini adalah hari dimana Widya akan di operasi. Aku menyempatkan untuk datang, namun memang manusia yang merencanakan tapi tetap Tuhan pula yang menentukan aku tidak bisa hadir karena ada pertandingan basket di sekolah dan tidak bisa ditinggalkan. Namun, betapa terkejutnya aku, begitu selesai bertanding aku menyempatkan diri untuk melihat handphoneku, dilayar handphoneku tertera sebuah pesan masuk alias ada sms. Segera aku membukanya, ternyata sms itu memberitahuku bahwa Widya telah meninggal dunia! Saat itu badanku terasa kaku, aku tidak bisa mengucapkan apa-apa. Aku merasa berdosa kenapa aku lebih mementingkan pertandingan basket ini, bukannya ikut menemani Widya saat masa-masa kritisnya. Setelah merapikan semua peralatan basket, aku segera pulang untuk mandi dan segera berangkat menuju rumah Widya, karena tadi Tante Alma baru saja menelponku untuk datang ke rumahnya.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikummussalam"
"Tante...." aku tercekat melihat tante Alma yang begitu pucat karena menangis dan jenazah Widya yang terbujur kaku, namun bibirnya seperti tersenyum.
"Ya Rina, maaf ya tante telat memberitahu kamu!" ujarnya merasa bersalah.
"Bukan tante, Rina yang harus minta maaf karena tidak bisa ke Rumah Sakit!" sesalku.
"Tadi Widya sebelum operasi nanyain kamu terus, dia kangen sama kamu!" kata Tante Alma sedih.
"Benar tante?" aku setengah tidak percaya.
Perkataan Tante Alma membuatku sadar, ternyata Widya menyayangiku dan ingin aku menjadi sahabat, dan teman curhatnya. Tuhan maafkanlah segala dosa-dosa Widya dan tempatkan ia di sisi-Mu Amien! Widya maafin aku ya karena belum bisa menjadi sahabatmu.
(Cerpen - Shabrina Hidayat)
Aku merasa tidak sempurna hidup di dunia dan selalu mendapatkan cercaan dari orang lain
Bagaimana aku bisa melalui hidup ini kalau aku merasa terasing?
Berikanlah aku kekuatan Tuhan...
Sungguh aku percaya akan rahmat dan karunia-Mu
Karena Engkau tidak mungkin memberikan cobaan diluar kemampuan umat-Nya
Itulah sepenggal puisi karya Widya Anggrainum, teman sebayaku yang mengidap penyakit kanker, aku bertemu dia saat mengantar ayah ke Rumah Sakit untuk kontrol ke dokter Jantung. Jujur aku merasa sangat sedih melihat keadaannya waktu itu, namun aku menahan untuk tidak menangis. Widya, begitulah ia sering dipanggil ia begitu tabah dan mensyukuri akan hidupnya sekarang ini. Bahkan ketika aku menjenguknya untuk kedua kalinya, ia begitu semangat begitu aku tersenyum menatap matanya. Aku terenyuh melihat bola matanya yang begitu berbinar-binar menatap mataku seakan dia berkata : Terima Kasih Tuhan engkau memberikan seseorang yang mau berteman denganku. Perlu kalian ketahui, Widya tidak punya teman selain para pasien yang mengidap penyakit yang sama dengannya! Karena, ya seperi yang aku bilang dengan kalian kalau Widya sering dicibir karena kondisi fisiknya. Rambut Widya sudah tidak ada alias botak karena menjalani Kemoterapi, untuk menutupi kepalanya itu dia sekarang sudah memakai kerudung. Oh ya, aku belum kasih tahu namaku hehhe maaf ya..karena keasyikan ceritain Widya , nama panjangku Shabrina Anindhita Tyas kalian boleh memanggilku Rina dan umurku baru 15 tahun. Aku baru masuk SMA nih??... Loh kok jadi curhat ya??
"Assalamu'alaikum" salamku begitu masuk ke ruang perawatan begitu melihat Widya.
"Wa'alaikummussalam, rina apa kabar?" jawabnya sambil mencoba tersenyum.
"Alhamdulillah baik. Kamu?" tanyaku sambil melihat wajah Widya yang semakin hari semakin lesu.
"YA begini aja kok! Ga ada perubahan" Ujarnya lesu.
Aku hanya mencoba tersenyum melihat jawabannya itu, ada sedikit duka di perkataanya. Itu yang membuat aku tidak bisa berbicara untuk menanggapi omongannya. Sepertinya Widya merasa aku menjadi berpikir tentang dirinya, langsung ia mengajakku duduk di sampingnya.
"Rina, kamu mau sampai kapan berdiri kayak patung begitu???" ujarnya sambil tersenyum.
"Sampai kamu mau makan.." kataku sambil menunjuk makanan yang belum dimakan oleh Widya.
"Aku tidak lapar!" Widya langsung cemberut.
"Kenapa kamu enggak mau makan sih?" ujarku sedih melihatnya.
"Percuma saja aku makan, pasti aku akan mati!"
Aku segera memeluknya begitu air matanya mengalir deras di pipinya. Aku yakin dia pasti menganggap dirinya tidak berguna di dunia ini, kalau aku menjadi dia pasti aku akan menganggap diriku seperti itu. Tapi Widya selalu tegar mengahadapi dunia ini, tapi kenapa hari ini ia begitu sedih? Apa ada masalah menimpa dirinya? Atau ada orang yang menjelek-jelekkan dirinya? Sampai ia begitu sedih hari ini Entahlah!
Ada seorang dokter menghampiriku saat aku beranjak pulang begitu menutup pintu kamar perawatan Widya.
"Selamat siang, anda keluarga dari nona Widya?" tanya dokter itu ramah.
"Siang, oh saya temannya Widya maaf ada apa ya?" kataku bingung.
"Oh maaf, saya kira anda keluarganya, ksmi ingin memberitahu kalau Widya harus segera dioperasi!" jawab dokter itu serius.
"Operasi? untuk apa ya?" tanyaku penasaran.
"Oh maaf mbak, saya hanya bisa menjelaskan hal ini kepada keluarganya saja Permisi!" pamit dokter itu.
Aku segera menelpon Tante Alma, yang tak lain adalah mamanya Widya.
"Assalamu'alaikum, tante ini Rina tante bisa ke rumah sakit sekarang?"
"Wa'alaikumussalam, bisa kok tante segera kesana ya!"
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Tante Alma datang juga. Segera aku salami wanita yang umurnya hampir 45 tahun ini tapi tetap kelihatan cantik dan awet muda. Ia begitu khawatir akan keadaan anaknya, sehingga begitu ia sampai menghampiriku raut wajahnya sangat cemas.
"Tante tadi Rina ketemu sama dokter, katanya Widya harus segera dioperasi, tapi Rina enggak tahu untuk apa Widya dioperasi begitu Rina tanya, kata dokter ia hanya mau bicara dengan keluarga pasien saja!" jelasku panjang lebar.
"Ya sudah, kamu antar tante ke ruangan dokter itu ya?" pintanya.
"Baik tante!" jawabku lembut.
Kami sama-sama mendatangi ruangan praktek dokter itu. Ketika kami mengetuk pintu ruang praktek itu keluarlah seorang dokter berwajah oriental mengenakan setelan jas dokter berwarna putih. Begitu melihat kami, dokter itu segera mempersilakan kami untuk masuk ke ruangannya.
"Dokter Kevin, saya Alma ibunya Widya!" ujar Tante Alma.
"Oh ya.. Selamat siang Ibu Alma, saya memang ingin berbicara dengan anda mengenai keadaan kesehatan Widya!"
"Ya silahkan dokter!"
"Begini bu Alma, Widya harus segera dioperasi untuk kesembuhan penyakit kankernya ini, tapi..." pertanyaan dokter Kevin menggantung.
"Tapi kenapa dok?" tanya Tante Alma tidak sabar.
"Tapi ada resikonya ibu, seandainya operasi ini tidak berhasil kemungkinan ia akan meninggal!" kata dokter Kevin serius.
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya dokter Kevin!" ujar Tante Alma.
"Baik Bu!"
Sehari setelah aku dan Tante Alma bertemu dengan dokter Kevin, aku kembali menjenguk Widya, namun kali ini ia tidak nampak tersenyum mungkin ia kepikiran kalau ia akan dioperasi beberapa hari lagi.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikummussalam"
"Kamu kenapa? kok wajahmu lesu banget!" tanyaku.
"Aku.... Aku takut Rin!" kata Widya terbata-bata.
"What? Takut? Apa yang ditakutin sih, liat aku jadi takut?" ujarku sambil tertawa.
"Aku takut meninggal Rina! Aku belum bisa memberikan apapun pada mama dan papa. Aku... aku belum bisa membahagiakan mama, papa, dan kakakku!!" ujarnya sambil menangis.
"Sudahlah yang penting kamu tawakal aja sama Tuhan, serahkan saja pada-Nya ya? Kalau kamu bilang kamu belum bisa membahagiakan kedua orang tua dan kakakmu cobalah buat mereka tersenyum. Itu saja dulu!" terangku padanya.
"Thank You Rina, You are the best friend... jangan lupain aku ya?" tanyanya sendu padaku.
"Insya Allah!" janjiku.
Tidak terasa hari semakin cepat berlalu, hari Sabtu ini adalah hari dimana Widya akan di operasi. Aku menyempatkan untuk datang, namun memang manusia yang merencanakan tapi tetap Tuhan pula yang menentukan aku tidak bisa hadir karena ada pertandingan basket di sekolah dan tidak bisa ditinggalkan. Namun, betapa terkejutnya aku, begitu selesai bertanding aku menyempatkan diri untuk melihat handphoneku, dilayar handphoneku tertera sebuah pesan masuk alias ada sms. Segera aku membukanya, ternyata sms itu memberitahuku bahwa Widya telah meninggal dunia! Saat itu badanku terasa kaku, aku tidak bisa mengucapkan apa-apa. Aku merasa berdosa kenapa aku lebih mementingkan pertandingan basket ini, bukannya ikut menemani Widya saat masa-masa kritisnya. Setelah merapikan semua peralatan basket, aku segera pulang untuk mandi dan segera berangkat menuju rumah Widya, karena tadi Tante Alma baru saja menelponku untuk datang ke rumahnya.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikummussalam"
"Tante...." aku tercekat melihat tante Alma yang begitu pucat karena menangis dan jenazah Widya yang terbujur kaku, namun bibirnya seperti tersenyum.
"Ya Rina, maaf ya tante telat memberitahu kamu!" ujarnya merasa bersalah.
"Bukan tante, Rina yang harus minta maaf karena tidak bisa ke Rumah Sakit!" sesalku.
"Tadi Widya sebelum operasi nanyain kamu terus, dia kangen sama kamu!" kata Tante Alma sedih.
"Benar tante?" aku setengah tidak percaya.
Perkataan Tante Alma membuatku sadar, ternyata Widya menyayangiku dan ingin aku menjadi sahabat, dan teman curhatnya. Tuhan maafkanlah segala dosa-dosa Widya dan tempatkan ia di sisi-Mu Amien! Widya maafin aku ya karena belum bisa menjadi sahabatmu.
(Cerpen - Shabrina Hidayat)
Pergi..
Aku hanya bisa memohon dan meminta kepada-Mu. KArena tidak mungkin aku bisa berdiri sendiri di muka bumi ini tanpa engkau Ya Tuhan dan orang-orang di sekitarku. Terkadang aku punya masalah yg berat dan aku menganggap tidak mungkin bisa menyelesaikannya. Sepertinya aku ingin pergi sebentar dari kehidupanku ini??? Yah hanya sebentar.. hanya sesaat... Apakah itu mungkin???? Tapi aku mulai berpikir, tidak ada yg bisa lari dari kenyataan. Seharusnya kita bisa berpikir lebih dewasa bagaimana cara kita untuk menyelesaikan sebuah masalah tanpa harus lari dari masalah itu...
Kemanakah Arah Hidupku?
Tuhan.. Aku bingung, aku tidak tahu harus aku bawa kemana arah hidupku ini. BAntu aku, bimbinglah diriku ini, jangan sampai aku masuk dalam perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Arahkanlah hidupku pada jalan-Mu ini agar aku bisa menjadi org yg baik dan selalu taat pada perintah-Mu amien..! Jangan engkau sesatkan jalanku, luruskanlah jalanku....
Ya Tuhan hanya kepada-Mu lah aku memohon dan meminta...!!
Ya Tuhan hanya kepada-Mu lah aku memohon dan meminta...!!
Sabtu, 18 Juli 2009
Tuhan..
Tak ada yang terlahirkan sempurna di muka bumi ini, setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. Terkadang ada orang yang menutupi kekurangannya, dan hanya memperlihatkan kelebihannya(termasuk saya sendiri) namun dibalik semua itu seharusnya kita harus mensyukuri kekurangan kita. Karena dari kekurangan itulah seharusnya kita bisa memperbaikinya dari hari ke hari agar kekurangan itu menjadi hal yang baik(sepertinya ngomongnya muter-muter ya?) dan juga Jangan pernah menyesali
Segala hal yang telah terjadi karena apapun yang pernah terjadi dalam hidup kita anggaplah bahwa itu adalah pembelajaran buat hidup kita agar lebih baik dari hari ke hari... Semoga hal itu bisa terjadi pada diri kita Amien..!!!
Saya percaya kalau Tuhan pasti kan menunjukkan Kebesaran dan kuasanya Bagi hambanya yang sabar Dan tak kenal Putus asa....
Tuhan pasti punya rencana yang baik untuk hidup kita, tidak mungkin Ia akan memberikan cobaan diluar kemampuan umat-Nya.. Kita sebagai umat beragama kita harus percaya itu walaupun kita berbeda agama sekalipun..
-Shabrina Hidayat-
Segala hal yang telah terjadi karena apapun yang pernah terjadi dalam hidup kita anggaplah bahwa itu adalah pembelajaran buat hidup kita agar lebih baik dari hari ke hari... Semoga hal itu bisa terjadi pada diri kita Amien..!!!
Saya percaya kalau Tuhan pasti kan menunjukkan Kebesaran dan kuasanya Bagi hambanya yang sabar Dan tak kenal Putus asa....
Tuhan pasti punya rencana yang baik untuk hidup kita, tidak mungkin Ia akan memberikan cobaan diluar kemampuan umat-Nya.. Kita sebagai umat beragama kita harus percaya itu walaupun kita berbeda agama sekalipun..
-Shabrina Hidayat-
Senin, 15 Juni 2009
Kasih sayang seorang Ibu..
Dulu aku tidak pernah tahu arti kasih sayang seorang ibu. Karena bagi aku ibuku adalah perempuan yang matrealistis. Buktinya sejak dulu ibu selalu ikut campur dalam kehidupanku, memang sih itu bagus tapi sangat kelewatan masa sampai urusan pribadiku ibu harus ikut campur. Aku pernah pacaran dengan seorang teman SMAku yang memang sangat ganteng, tapi karena ibu tidak suka dengannya karena dia bukan dari kalangan berada dan serta merta ibu langsung menjodohkanku dengan laki-laki yang umurnya terpaut 9 tahun lebih tua dariku. Memang kami hanya tunangan saja, karena ibu tetap mempertahankan statusku yang masih SMA dan akan menikahkanku kalau aku sudah lulus kuliah nanti. Untuk soal pendidikan keluarga kami selalu mengutamakannya, dan minimal kami harus mendapatkan gelar sarjana. Tapi ternyata semua pilihan ibu itu ternyata benar, cowok yang aku pacari itu ternyata bandar narkoba dan sampai sekarang ia masih di penjara. Mulai dari kejadian itulah aku mulai mengakui bahwaembaga Pemasyarakatan atau penjara ibu itu orang yang baik dan sangat pengertian pada aku dan hidupku ini. Buktinya sekarang Mas Fabian cowok blasteran Indonesia-Cina ini yang menjadi tunanganku sekarang ternyata orang yang baik dan penyabar juga ia sangat mapan dalam pekerjaannya. Sekarang aku masih kuliah di sebuah Universitas Negeri terkemuka di Indonesia umurku memang masih terbilang muda yaitu 20 tahun dan akan menyelesaikan skripsi. Dan juga aku akan mencari kerja dulu baru bersedia menikah dengan Mas Fabian agar aku tidak selalu bergantung dengan calon suamiku itu.
"Assalamu'alaikum mas kamu mau jemput aku enggak hari ini?" pintaku setengah memohon.
"Wa'alikumussalam aduh maaf ya Tiara aku enggak bisa jemput kamu aku lagi meeting nih." ujarnya sibuk.
"Yah enggak bisa ya... Ya sudahlah enggak apa-apa aku pulang sendiri saja, jangan lupa makan ya nanti maagnya kambuh lagi Assalamu'alaikum." pesanku padanya.
" Terima kasih ya Wa'alaikummussalam." jawabnya lembut.
Karena hari ini mas Fabian enggak bisa menjemputku, terpaksa aku telpon ke rumah untuk meminta supir menjemputku tapi begitu aku menelpon ternyata ibu yang mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum." salamku.
"Wa'alaikumussalam." jawab orang di seberang sana.
"Ini ibu ya, bu pak Tarno ada di rumah enggak tolong suruh jemput aku dong." pintaku tergesa-gesa karena kepanasan.
"Pak Tarno lagi enggak ada, tapi biarlah ibu yang menjemputmu." ujar ibu.
Menunggu ibu yang lama membuatku kepanasan karena hari ini memang cuaca sangat panas sekali. Beberapa kali kulirik mobil yang berlalu lalang di luar, namun tidak kujumpai mobil ibu. Kulihat jam, ternyata aku sudah menunggu cukup lama yaitu sudah 2
jam. Tiba-tiba perasaanku mulai tidak enak, aku takut ada apa-apa dengan ibu tapi sudahlah mungkin hanya perasaanku saja. Tidak lama berselang, handphoneku berdering menandakan ada telpon segera kulihat dilayar handphone ternyata telpon dari rumah.
"Assalamu'alaikum ada apa?" tanyaku tergesa-gesa karena takut.
"Wa'alaikumussalam Mbak ini saya mbok Jum ibu kecelakaan mobil sekarang ada di Rumah Sakit!" terang Mbok Jum panik.
"Ya Allah, terima kasih ya mbok." jawabku.
Segera kutelpon mas Fabian untuk menemaniku ke rumah sakit, tapi anehnya begitu kutelpon handphonenya tidak aktif. Karena tidak bisa menelpon mas FAbian kuputuskan saja ke rumah sakit seorang diri.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menanyakan keadaan ibu kepada dokter jaga.
"Selamat siang dokter, bagaimana keadaan ibu saya?" tanyaku gugup.
"Maaf bu, kami sudah melakukan yang terbaik tap nyawa ibu anda tidak bisa tertolong lagi kami minta maaf!" ujar dokter itu.
Mendengar pernyataan itu membuat badanku sangat lemas sekali, bahkan tidak mampu menopang tubuhku ini dan aku merasa aku akan pingsan. Tiba-tiba lantai yang aku pijak ini semuanya terasa kabur dan sangat gelap.
"Tiara kamu tidak apa-apa?" tanya seseorang memegang pundakku hangat dan rasanya aku mengenal suara ini.
"Mas Fabian, ibu mas...ibu..!" tangisku keras.
"Sudahlah, ikhlaskan ibu jangan buat ia tidak tenang di alamnya!" bujuk Fabian tenang sambil mengelus rambut indah Tiara.
Memang benar kata mas Fabian, aku harus mengikhlaskan kepergian ibu ini dengan hati yang ikhlas agar ibu bisa tenang disana. Ibu aku merasa berdosa sebagai anak, dulu aku sangat membencimu, sangat menghinamu tapi sungguh sekarang ini aku merasa aku belum bisa membahagiankanmu belum bisa membuatmu bangga akan hasil didikanmu ini. Ya Allah kalau ibu punya salah maafkanlah ia jangan engkau menghukumnya dan berilah ia tempat di sisi-Mu Amin! Ibu maafkan aku, kasih sayangmu tidak akan pernah hilang dalam ingatanku sampai aku menyusulmu nanti dan ibu selalu do'akan kami orang-orang yang selalu menyayangimu.
"Assalamu'alaikum mas kamu mau jemput aku enggak hari ini?" pintaku setengah memohon.
"Wa'alikumussalam aduh maaf ya Tiara aku enggak bisa jemput kamu aku lagi meeting nih." ujarnya sibuk.
"Yah enggak bisa ya... Ya sudahlah enggak apa-apa aku pulang sendiri saja, jangan lupa makan ya nanti maagnya kambuh lagi Assalamu'alaikum." pesanku padanya.
" Terima kasih ya Wa'alaikummussalam." jawabnya lembut.
Karena hari ini mas Fabian enggak bisa menjemputku, terpaksa aku telpon ke rumah untuk meminta supir menjemputku tapi begitu aku menelpon ternyata ibu yang mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum." salamku.
"Wa'alaikumussalam." jawab orang di seberang sana.
"Ini ibu ya, bu pak Tarno ada di rumah enggak tolong suruh jemput aku dong." pintaku tergesa-gesa karena kepanasan.
"Pak Tarno lagi enggak ada, tapi biarlah ibu yang menjemputmu." ujar ibu.
Menunggu ibu yang lama membuatku kepanasan karena hari ini memang cuaca sangat panas sekali. Beberapa kali kulirik mobil yang berlalu lalang di luar, namun tidak kujumpai mobil ibu. Kulihat jam, ternyata aku sudah menunggu cukup lama yaitu sudah 2
jam. Tiba-tiba perasaanku mulai tidak enak, aku takut ada apa-apa dengan ibu tapi sudahlah mungkin hanya perasaanku saja. Tidak lama berselang, handphoneku berdering menandakan ada telpon segera kulihat dilayar handphone ternyata telpon dari rumah.
"Assalamu'alaikum ada apa?" tanyaku tergesa-gesa karena takut.
"Wa'alaikumussalam Mbak ini saya mbok Jum ibu kecelakaan mobil sekarang ada di Rumah Sakit!" terang Mbok Jum panik.
"Ya Allah, terima kasih ya mbok." jawabku.
Segera kutelpon mas Fabian untuk menemaniku ke rumah sakit, tapi anehnya begitu kutelpon handphonenya tidak aktif. Karena tidak bisa menelpon mas FAbian kuputuskan saja ke rumah sakit seorang diri.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menanyakan keadaan ibu kepada dokter jaga.
"Selamat siang dokter, bagaimana keadaan ibu saya?" tanyaku gugup.
"Maaf bu, kami sudah melakukan yang terbaik tap nyawa ibu anda tidak bisa tertolong lagi kami minta maaf!" ujar dokter itu.
Mendengar pernyataan itu membuat badanku sangat lemas sekali, bahkan tidak mampu menopang tubuhku ini dan aku merasa aku akan pingsan. Tiba-tiba lantai yang aku pijak ini semuanya terasa kabur dan sangat gelap.
"Tiara kamu tidak apa-apa?" tanya seseorang memegang pundakku hangat dan rasanya aku mengenal suara ini.
"Mas Fabian, ibu mas...ibu..!" tangisku keras.
"Sudahlah, ikhlaskan ibu jangan buat ia tidak tenang di alamnya!" bujuk Fabian tenang sambil mengelus rambut indah Tiara.
Memang benar kata mas Fabian, aku harus mengikhlaskan kepergian ibu ini dengan hati yang ikhlas agar ibu bisa tenang disana. Ibu aku merasa berdosa sebagai anak, dulu aku sangat membencimu, sangat menghinamu tapi sungguh sekarang ini aku merasa aku belum bisa membahagiankanmu belum bisa membuatmu bangga akan hasil didikanmu ini. Ya Allah kalau ibu punya salah maafkanlah ia jangan engkau menghukumnya dan berilah ia tempat di sisi-Mu Amin! Ibu maafkan aku, kasih sayangmu tidak akan pernah hilang dalam ingatanku sampai aku menyusulmu nanti dan ibu selalu do'akan kami orang-orang yang selalu menyayangimu.
Selasa, 09 Juni 2009
Cinta Karenina
Siang itu Karenina sedang memberi makan kelinci kesayangannya, Pito. Kelinci itu pemberian dari Ardian, dokter sekaligus sahabat bagi Karenina karena semenjak kakinya diamputasi ia menjadi anak yang mudah marah dan pemurung. Juga karena ibunya meninggal akibat serangan jantung dan ayahnya menikah lagi dengan perempuan bernama Tante Tina lagi empat bulan setelah kepergian ibunya, perempuan yang dinikahi ayahnya itu sangat baik dan sabar tapi Karenina tetap membencinya karena telah mengambil ayah darinya. Karenina menjadi sakit hati, dan mencoba kabur dari rumah sambil membawa mobil kesayangannya padahal ia belum punya SIM. Namun, kepergiannya dari rumah malah menjadi malapetaka buat dirinya karena ia harus kehilangan satu kakinya, dan itu membuatnya sangat syok sehingga dia mencoba bunuh diri tapi niatnya itu dihalangi oleh dokter Ardian, dan mulai kejadian itulah Karenina dan Ardian mulai dekat. Ardian juga menasihatinya jangan pernah membenci seseorang, apalagi orang itu sudah mau mengurus dan membimbingnya dengan tulus ikhlas. Hal iti yang membuat hati Karenina sebagai perempuan tersentuh, dan ia pun mau menerima Tante Tina sebagai ibu tirinya dengan ikhlas.
"Assalamu'alaikum tante, apa kabar?" tanya Ardian siang itu ramah.
"Eh, Ardian, Wa'alaikumusssalam baik ko!" Jawab Tante Tina ramah.
"Ada Karenina tante?"
"Ada kok,dibelang lagi kasih makan Pito kesana aj."
Cowok berdarah Cina-Indonesia ini segera menuju ke halaman belakang untuk menemui Karenina. Namun, setelah ia sampai di halaman belakang ia tertegun melihat wajah murung Karenina.
"Assalamu'alaikum Nona Karenina."
"Wa'alaikummussalam Ih, apa sih, kan udah gue bilang jangan panggil gue pake nona you know?" marah Karenina.
"Iya deh maaf, gitu aja marah." Ardian tersenyum melihat Karenina sewot.
"Eh,aku mau bilang kalau kamu mau enggk pakai kaki palsu?" tanya Ardian.
"Enggak." jawab Karenina singkat.
"Why?"
"Gue udah bahagia dengan kursi roda ini jadi udahlah biarin aja gue pake kursi roda." bentak Karenina marah.
"Tapi, aku...."
"Maaf ya Ardian gue lagi males ngomongin hal ini, mendingan lo pergi aja ya!" usir Karenina.
Dengan muka kecewa, Ardian meninggalkan Karenina sendirian di halaman belakang. Ia tak habis pikir kenapa Karenina menjadi galak dan judes seperti itu, enggak pernah ia melihat Karenina sampai marah seperti itu.
Handphone Ardian berdering, namun pemiliknya lagi asyik tidur sehingga males sekali untuk mengangkat handphone itu. Tapi sang penelponnya mengira bahwa Ardian marah denggannya karena kelakuannya tadi siang. Si penelpon itu tak lain dan tak bukan adalah Karenina, ia ingin minta maaf karena ucapannya yang sangat tidak wajar itu. Dan ia bersedia untuk memakai kaki palsu yang dianjurkan oleh Ardian itu.
"Wah, ternyata Karenina toh yang menelponku tadi." gumam Ardian sambil mengucek matanya.
Dan ia pun berniat untuk menelpon balik Karenina, dan syukurnya Karenina segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum maaf ya tadi enggak diangkat, aku lagi tidur.. ada apa?" tanya Ardian lembut.
"Wa'alaikumussalam gue mau minta maaf karena ucapanku yang kasar tadi, dan mau meralat ucapan gue tadi." ujar Karenina hati-hati.
"Iya, sama-sama aku minta maaf juga ya, yaudah sampe ketemu besok ya?"
"Oke, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikummussalam"
Keesokan harinya, Karenina dan Ardian pun bertemu di Rumah Sakit. Begitu senang Ardian melihat Karenina berubah pikiran karena ia mau memakakai kaki palsu.
"Alhamdulillah akhirnya kamu mau juga menerima tawaranku ini."
Ucapan Ardian dijawab Karenina hanya dengan senyuman, jujur didalam hatinya ia memakai kaki palsu ini karena merasa tidak enak pada Ardian. Setelah sampai di ruang praktek Ardian, langsung saja Karenina berdiri dari kursi roda dan mencoba naik ke tempat tidur, tapi karena keseimbangannya kurang ia terjatuh.
"Auw..." jerit Karenina
"Makanya hati-hati jangan dipaksa." uluran tangan Ardian meraih tangan Karenina.
"Terima Kasih ya."
Tatapan mata Ardian yang lembut itu mampu membuat hati Karenina menjadi sejuk. Andai saja Ardian mau menjadi pacarnya tapi apa iya dia mau menjadi pacarku? Ah, sudahlah tidak usah bermimpi.
"Aku menyuruh kamu kesini hanya untuk melihat bagaimana kondisi kaki kamu ini!" ujar Ardian sambil memeriksa kaki Karenina.
"Lalu kapan gue udah bisa pakai kaki palsu itu?" tanya Karenina.
"Insya Allah besok kalau enggak ada halangan, dan nanti sore aku akan kesana untuk mengambilnya." senyum Ardian mengembang di bibir tipisnya.
"Gue boleh ikut?" pinta Karenina.
"Tak usahlah, kamu di rumah aja nanti aku ke rumahmu oke?" canda Ardian.
"Baiklah, gue pulang dulu ya, assalamu'alaikum." pamit Karenina
"Wa'alaikumussalam."
Entah kenapa dari tadi saat bertemu Ardian perasaannya selalu tidak enak. Semoga ini hanya halusinasiku saja. Tante Tina yang dari tadi melihat Karenina selalu bengong saja segera menghampirinya.
"Karenina, kamu kenapa sih daritadi tante lihat kamu bengong terus?" tanya Tante Tina khawatir.
"Aku takut.... Takut ada apa-apa dengan Ardian, daritadi perasaanku tidak enak terus." curhat Karenina pada Tante Tina.
"Cieee... jangan-jangan kamu suka lagi dengan Ardian." goda Tante Tina sambil tersenyum.
"Ihh tante ini apa-apaan sih."
Dari kejauhan tampak Ardian sedang berjalan terburu-buru menuju ke arah Karenina dan Tante Tina yang sedang duduk.
"Ardian, mau kemana?" tanya Tante Tina ramah.
"Oh, ini tante mau mengambil kaki palsu Karenina di Rumah Sakit." senyum Ardian.
"Hati-hati ya."
Sesampainya di rumah, tiba-tiba saja handphone Karenina berdering dan ia langsung mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum." salam seorang perempuan disana.
"Wa'alaikumussalam, maaf ini siapa ya?" tanya Karenina pelan.
"Saya ibunya Ardian, saya ingin memberitahukan bahwa Ardian meninggal dunia karena tabrakan." ujar suara itu sendu.
Oh Tuhan apakah perasaanku yang tidak enak tadi itu adalah tentang meninggalnya Ardian, seseorang yang telah mampu membuat hidupku ini merasa berguna. Dia yang selalu menjadi motivator bagi hidupku dan yang selalu menyemangatiku untuk selalu menganggap bahwa hidup ini sangat menyenangkan. Ardian aku sungguh beruntung bertemu denganmu dan aku akan berdoa semoga arwahmu selalu tenang disisi-Nya Amien.
"Assalamu'alaikum tante, apa kabar?" tanya Ardian siang itu ramah.
"Eh, Ardian, Wa'alaikumusssalam baik ko!" Jawab Tante Tina ramah.
"Ada Karenina tante?"
"Ada kok,dibelang lagi kasih makan Pito kesana aj."
Cowok berdarah Cina-Indonesia ini segera menuju ke halaman belakang untuk menemui Karenina. Namun, setelah ia sampai di halaman belakang ia tertegun melihat wajah murung Karenina.
"Assalamu'alaikum Nona Karenina."
"Wa'alaikummussalam Ih, apa sih, kan udah gue bilang jangan panggil gue pake nona you know?" marah Karenina.
"Iya deh maaf, gitu aja marah." Ardian tersenyum melihat Karenina sewot.
"Eh,aku mau bilang kalau kamu mau enggk pakai kaki palsu?" tanya Ardian.
"Enggak." jawab Karenina singkat.
"Why?"
"Gue udah bahagia dengan kursi roda ini jadi udahlah biarin aja gue pake kursi roda." bentak Karenina marah.
"Tapi, aku...."
"Maaf ya Ardian gue lagi males ngomongin hal ini, mendingan lo pergi aja ya!" usir Karenina.
Dengan muka kecewa, Ardian meninggalkan Karenina sendirian di halaman belakang. Ia tak habis pikir kenapa Karenina menjadi galak dan judes seperti itu, enggak pernah ia melihat Karenina sampai marah seperti itu.
Handphone Ardian berdering, namun pemiliknya lagi asyik tidur sehingga males sekali untuk mengangkat handphone itu. Tapi sang penelponnya mengira bahwa Ardian marah denggannya karena kelakuannya tadi siang. Si penelpon itu tak lain dan tak bukan adalah Karenina, ia ingin minta maaf karena ucapannya yang sangat tidak wajar itu. Dan ia bersedia untuk memakai kaki palsu yang dianjurkan oleh Ardian itu.
"Wah, ternyata Karenina toh yang menelponku tadi." gumam Ardian sambil mengucek matanya.
Dan ia pun berniat untuk menelpon balik Karenina, dan syukurnya Karenina segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum maaf ya tadi enggak diangkat, aku lagi tidur.. ada apa?" tanya Ardian lembut.
"Wa'alaikumussalam gue mau minta maaf karena ucapanku yang kasar tadi, dan mau meralat ucapan gue tadi." ujar Karenina hati-hati.
"Iya, sama-sama aku minta maaf juga ya, yaudah sampe ketemu besok ya?"
"Oke, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikummussalam"
Keesokan harinya, Karenina dan Ardian pun bertemu di Rumah Sakit. Begitu senang Ardian melihat Karenina berubah pikiran karena ia mau memakakai kaki palsu.
"Alhamdulillah akhirnya kamu mau juga menerima tawaranku ini."
Ucapan Ardian dijawab Karenina hanya dengan senyuman, jujur didalam hatinya ia memakai kaki palsu ini karena merasa tidak enak pada Ardian. Setelah sampai di ruang praktek Ardian, langsung saja Karenina berdiri dari kursi roda dan mencoba naik ke tempat tidur, tapi karena keseimbangannya kurang ia terjatuh.
"Auw..." jerit Karenina
"Makanya hati-hati jangan dipaksa." uluran tangan Ardian meraih tangan Karenina.
"Terima Kasih ya."
Tatapan mata Ardian yang lembut itu mampu membuat hati Karenina menjadi sejuk. Andai saja Ardian mau menjadi pacarnya tapi apa iya dia mau menjadi pacarku? Ah, sudahlah tidak usah bermimpi.
"Aku menyuruh kamu kesini hanya untuk melihat bagaimana kondisi kaki kamu ini!" ujar Ardian sambil memeriksa kaki Karenina.
"Lalu kapan gue udah bisa pakai kaki palsu itu?" tanya Karenina.
"Insya Allah besok kalau enggak ada halangan, dan nanti sore aku akan kesana untuk mengambilnya." senyum Ardian mengembang di bibir tipisnya.
"Gue boleh ikut?" pinta Karenina.
"Tak usahlah, kamu di rumah aja nanti aku ke rumahmu oke?" canda Ardian.
"Baiklah, gue pulang dulu ya, assalamu'alaikum." pamit Karenina
"Wa'alaikumussalam."
Entah kenapa dari tadi saat bertemu Ardian perasaannya selalu tidak enak. Semoga ini hanya halusinasiku saja. Tante Tina yang dari tadi melihat Karenina selalu bengong saja segera menghampirinya.
"Karenina, kamu kenapa sih daritadi tante lihat kamu bengong terus?" tanya Tante Tina khawatir.
"Aku takut.... Takut ada apa-apa dengan Ardian, daritadi perasaanku tidak enak terus." curhat Karenina pada Tante Tina.
"Cieee... jangan-jangan kamu suka lagi dengan Ardian." goda Tante Tina sambil tersenyum.
"Ihh tante ini apa-apaan sih."
Dari kejauhan tampak Ardian sedang berjalan terburu-buru menuju ke arah Karenina dan Tante Tina yang sedang duduk.
"Ardian, mau kemana?" tanya Tante Tina ramah.
"Oh, ini tante mau mengambil kaki palsu Karenina di Rumah Sakit." senyum Ardian.
"Hati-hati ya."
Sesampainya di rumah, tiba-tiba saja handphone Karenina berdering dan ia langsung mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum." salam seorang perempuan disana.
"Wa'alaikumussalam, maaf ini siapa ya?" tanya Karenina pelan.
"Saya ibunya Ardian, saya ingin memberitahukan bahwa Ardian meninggal dunia karena tabrakan." ujar suara itu sendu.
Oh Tuhan apakah perasaanku yang tidak enak tadi itu adalah tentang meninggalnya Ardian, seseorang yang telah mampu membuat hidupku ini merasa berguna. Dia yang selalu menjadi motivator bagi hidupku dan yang selalu menyemangatiku untuk selalu menganggap bahwa hidup ini sangat menyenangkan. Ardian aku sungguh beruntung bertemu denganmu dan aku akan berdoa semoga arwahmu selalu tenang disisi-Nya Amien.
Langganan:
Postingan (Atom)


